Radio Republik Indonesia (RRI) ialahinstansipenayanganpublic yang berdiri pada 11 September 1945. Sejak awal kali, RRI jadikan radio sebagai alat perjuangan dan propaganda kemerdekaan Indonesia.
Pada saat itu, radio bukan sekedarmediainformasi, tapi jugasisi dari taktik revolusi. Suaranya tembusbatasan penjajahan danmenjadikan satumasyarakat dalam semangat perlawanan.
Sebelum Indonesia merdeka, radio sudahdipakai negara besar sebagai alat propaganda perang. Jepang dan Sekutu manfaatkan gelombang udara untukmenebarkanterordan peringatan militer.
Jepang, saatmasuk ke dalam Indonesia pada 1942, menyebutkandianyasebagai saudara penolong melaluitayangan radio. Tetapi pesan itu berbeda arah saat Proklamasi 17 Agustus 1945 ditayangkanmelaluifrekwensi udara.
Setelah Jepang undur, beberapabekas operator radio Jepang di delapan kota bergabung. Mereka asal dari Jakarta, Bandung, Surabaya, Semarang, Malang, sampai Yogyakarta.
Di rumah Adang Kandunganusman, mereka mengumumkan berdirinya RRI sebagaimedia perjuangan. Dr. Abdulrahman Saleh juga diangkat sebagaipimpinan umum RRI pertama.
Sejak itu, RRI menjadipenyambungdi antarapemerintahan pusat dan pejuang di wilayah. Radio dipakaiuntukmenebarkan propaganda nasional danberita perjuangan dengan cepat.
RRI Surabaya menjadi saksi sejarahsaat Bung Tomo kobarkan semangat masyarakatmelaluitayangan takbir. Ajakan itu mengunggah perlawanan masyarakat Surabaya menantang Sekutu pada 10 November 1945.
Di Semarang, RRI dibangun tahun 1945 dan aktif saat revolusi fisik berjalan. Saatpertarungan lima hari terjadi, tayangan RRI terus membakar semangat pemuda.
Radio menjadisalah satumedia yang menyampaikan kabargerakanpemerintahandan perjuangan masyarakat. Konsep ‘sekali mengudara, masih tetap di udara’ menjadi semangat yang tetap dijaga setiaptayangan.
Dari medan perang sampaipojokdaerah, tayangan RRI datanguntukmenjadikan satusuaramasyarakat. Diatidak cuma penyampai informasi, tapi jugalambang perlawanan lewat gelombang udara. (Yusuf Bagus)